Di
tengah perjalanan yang amat sangat panjang ini, aku berhenti sejenak. Menghirup
dalam-dalam aroma semangat yang masih tersisa. Untung saja masih ada, walau
setetes barangkali bisa berkobar lagi menjadi api semangat baru yg membakar semua
keraguanku. Lelah itu manusiawi, semua yang berjalan di bumi pasti pernah
merasakan lelah, kita tidak sendiri. Bahkan sekelas Nabi pun pernah merasakan
lelah dan hampir menyerah.
Masih ingat kisah Nabi Yunus ?
Selama bertahun-tahun Nabi Yunus berdakwah pada kaumnya, Akan tetapi mereka menolak beriman kepada Allah dan tetap memilih menyembah patung dan berhala. Mereka lebih memilih kekafiran dan kesesatan daripada keimanan dan petunjuk. Maka Nabi Yunus pun marah kepada kaumnya dan tidak berharap lagi terhadap keimanan mereka. Allah mewahyukan kepada Nabi Yunus untuk memberitahu kaumnya bahwa dalam waktu 3 hari mereka akan segera di adzab.
Nabi Yunus memperingatkan ancaman Allah kepada kaumnya dan memutuskan untuk tetap pergi meninggalkan mereka. Ketika itu, kaum Yunus telah mengetahui, bahwa Nabi Yunus telah pergi meninggalkan mereka sehingga mereka yakin adzab akan turun dan bahwa Yunus adalah seorang nabi, maka mereka segera bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kembali kepada-Nya. Saat Allah melihat jujurnya taubat mereka, maka Dia menghilangkan adzab itu dari mereka.
Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman :
“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota
yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika
mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka adzab yang
menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka
sampai kepada waktu yang tertentu.” (QS.
Yunus: 98)
Setelah peristiwa itu, Yunus tetap
meninggalkan kaumnya karena marah padahal Allah belum mengizinkannya, maka
Yunus pergi ke tepi laut dan menaiki kapal. Pada saat Yunus berada di atas
kapal, maka ombak laut menjadi dahsyat, Allah pun mengirimkan seekor ikan paus
untuk memberi pelajaran berharga kepada Nabi Yunus. Ia menelan Nabi
Yunus ke dalam perutnya tanpa mematahkan tulang dan merobek dagingnya, dan
Yunus pun tinggal di perut ikan itu dalam beberapa waktu dan dibawa mengarungi
lautan oleh ikan itu.
“Dan (ingatlah
kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka
bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam
keadaan yang sangat gelap, “Bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain
Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang
zalim.”–Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada
kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al
Anbiyaa’: 87-88)
Ditengah kedukaan dan penyesalannya, dalam keadaan gelap gulita di dalam perut ikan paus, tak henti-hentinya Nabi Yunus berdoa dan berdzikir kepada Allah. Allah pun menyelamatkan Nabi Yunus.
Betapa pelajaran berharga bagi kita tentang
bagaimana Allah menunjukkan bahwa lelah itu boleh-boleh saja, namun menyerah
jangan. Sekelas Nabi Yunus pun pernah lelah, pernah salah. Tapi luar biasanya
Nabi Yunus dengan kelelahan yang pernah dirasakan dan kesalahan yang pernah
dilakukan, atas izin Allah ia ubah semuanya menjadi cahaya keimanan yang
menerangi kembali jalannya. Menjadi titik baru untuk memompa kembali semangat
dalam berdakwah dan mengejar ridho Allah. Semoga kita bisa meneladani
sifat-sifat para Nabi dan Rosul. Maha Baik Allah, Kisah-kisah mereka, para Nabi dan Rosul, telah
banyak diabadikan dalam Al-Qur’an. Tinggal bagaimana kita mau mengambil
pelajaran dan hikmah sebagai petunjuk jalan kehidupan, atau mengabaikannya
begitu saja.
Jum'at, 3 Jumadil Awal 1445, 17 November 2023. 17 : 34 WIB
------- Putri Amelia --------